Yakinilah akan ada penghargaan, nantinya..
Ketika berbicara bahwa karya-karya kita tidak layak diutarakan, pemikiran-pemikiran kita tidak sesuai dengan standard yang berlaku, ide-ide kita belum secemerlang sang jagoan. Dan seterusnya….. Yakinilah bahwa kita tetap berguna atas apa yang sudah kita lakukan. Setidaknya untuk diri kita sendiri. Sekarang dan tentu yang akan datang.
Segelintir kalimat yang menyayat hati terhadap hasil karya diri, terimalah penampakannya. Rangkullah dan biarkan dia merajai imajinasi. Setelah itu, cernalah maksud kedatangan dari kata-kata tersebut. Dan ambil e-Pos (energy positive) dari e-Neg (energy negative) -nya.
Terkadang, disaat kita mendapatkan ketidaknyamanan atas apa yang sudah disuguhkan oleh keadaan, marahlah…. Kecewalah…. Tapi buatlah emosi itu berkualitas dan menghasilkan sesuatu yang membanggakan. Tidak perlu diperlihatkan kepada yang tidak nyaman dengan karya kita, tapi, biarkan dia yang melihat dan merasakan kenyamanan kita terhadap sesuatu hal. Terus berikan ruang yang membuat kita tetap percaya untuk terus berkarya. Maka lihatlah apa yang terjadi….
Penghargaan, akan datang pada sesorang yang ingin dihargai. Maka, teruslah mencoba untuk bertindak menghargai diri dengan perkataan yang santun, senyuman yang ramah, rangkulan tangan yang menghangatkan, dan tindakan diri yang menyesuaikan. Lalu, nikmati hasilnya….
Bagi kita yang kaya raya akan karya-karya diri. Teruskanlah untuk terus berkarya. Karena seburuk-buruknya karya adalah masih tetap merupakan hasil dari sesuatu yang telah dibuat dari yang bermula tidak ada menjadi ada. Maka, terus buatlah sejarah yang membanggakan.
Minggu, 09 Agustus 2009
Rabu, 01 Juli 2009
Apllication in Psychology_part.13
13. Psychology Test
Terakhir pertemuan dengan mata kuliah Psikologi perkembangan I, membuat saya senang. Karena apa? Sang dosen yang selalu tampil fresh itu, membagikan lembar copy-an yang berisi tentang test kepribadian. Hanya test ringan dan santai. Tapi cukup membuat saya dan teman-teman have fun menjawabnya. Ada yang sesuai ada yang melenceng. Dan pada saat hal yang sesuai dengan diri kita, kita saling memuji diri. Dan pada saat jawaban tidak sesuai dengan yang kita pilih. Semuanya pada tertawa. So funny….
Jadi, pada saat itu kami diberi kesempatan mengikuti bentuk tes kepribadian “Pencil and Paper Test” dengan cara mengisi kuesioner untuk menilai diri sendiri sesuai dengan assessment yang ada dilembar copy tersebut. Setelah session pertama selesai, maka kami menilai kepribadian teman-teman satu kelas. Apa yang ada di mind set kami, ketika memikirkan tentang teman yang kami nilai tersebut. Maka kami nilai sesuai fakta. Dan hasilnya. Hahaha..... lucu. Ada yang cocok dan tersenyum dengan jawabannya dan ada yang cemberut atas jawaban yang kurang cocok diterima. But basically, it’s good evaluation for us.
Terakhir pertemuan dengan mata kuliah Psikologi perkembangan I, membuat saya senang. Karena apa? Sang dosen yang selalu tampil fresh itu, membagikan lembar copy-an yang berisi tentang test kepribadian. Hanya test ringan dan santai. Tapi cukup membuat saya dan teman-teman have fun menjawabnya. Ada yang sesuai ada yang melenceng. Dan pada saat hal yang sesuai dengan diri kita, kita saling memuji diri. Dan pada saat jawaban tidak sesuai dengan yang kita pilih. Semuanya pada tertawa. So funny….
Jadi, pada saat itu kami diberi kesempatan mengikuti bentuk tes kepribadian “Pencil and Paper Test” dengan cara mengisi kuesioner untuk menilai diri sendiri sesuai dengan assessment yang ada dilembar copy tersebut. Setelah session pertama selesai, maka kami menilai kepribadian teman-teman satu kelas. Apa yang ada di mind set kami, ketika memikirkan tentang teman yang kami nilai tersebut. Maka kami nilai sesuai fakta. Dan hasilnya. Hahaha..... lucu. Ada yang cocok dan tersenyum dengan jawabannya dan ada yang cemberut atas jawaban yang kurang cocok diterima. But basically, it’s good evaluation for us.
Apllication in Psychology_part.12
12. Therapy
Ada pengalaman seru yang telah saya terapkan kepada teman saya sendiri. Ketika dia sedang mengalami masalah yang cukup rumit dalam hidupnya, dan dia tidak berani untuk share kepada yang lain, one of them is me. Maka, saya mencoba mengajak dia bermalam dirumah saya.
Bagusnya, ditempat saya ada sebuah sofa yang comfort bila merebahkan diri disana. Kemudian, saya teringat dengan teori Sigmund Freud tentang psikoanalisa-nya dengan cara Free Association, dimana seseorang yang datang dengan kepenatannya, akan merasa comfort dan kemudian dalam alam ketidaksadarannya dia mulai sharing atas apa yang sedang ia rasakan atau dia alami pada saat dia berada di sebuah sofa (ilustrasinya kurang lebih seperti itu). Apa benar saya mendapatkan “jawabannya”. Yupss, exactly. I got it.....
Kejadian ini membuat saya tesenyum puas. Tiga hal yang telah saya dapati dari pengalaman tersebut. Pertama, saya berhasil menerapkan sendiri teori psikoanalisa-nya Sigmund Freud tersebut. Kedua, saya merasa lega karena teman saya menjadi “lega” telah berhasil mengungkapkan perasaan buruknya (meski tanpa dia sadari, hehehe....:). Dan yang ketiga, saya dapat membantu dia dalam coping stress-nya. A nice experience for me......
Ada pengalaman seru yang telah saya terapkan kepada teman saya sendiri. Ketika dia sedang mengalami masalah yang cukup rumit dalam hidupnya, dan dia tidak berani untuk share kepada yang lain, one of them is me. Maka, saya mencoba mengajak dia bermalam dirumah saya.
Bagusnya, ditempat saya ada sebuah sofa yang comfort bila merebahkan diri disana. Kemudian, saya teringat dengan teori Sigmund Freud tentang psikoanalisa-nya dengan cara Free Association, dimana seseorang yang datang dengan kepenatannya, akan merasa comfort dan kemudian dalam alam ketidaksadarannya dia mulai sharing atas apa yang sedang ia rasakan atau dia alami pada saat dia berada di sebuah sofa (ilustrasinya kurang lebih seperti itu). Apa benar saya mendapatkan “jawabannya”. Yupss, exactly. I got it.....
Kejadian ini membuat saya tesenyum puas. Tiga hal yang telah saya dapati dari pengalaman tersebut. Pertama, saya berhasil menerapkan sendiri teori psikoanalisa-nya Sigmund Freud tersebut. Kedua, saya merasa lega karena teman saya menjadi “lega” telah berhasil mengungkapkan perasaan buruknya (meski tanpa dia sadari, hehehe....:). Dan yang ketiga, saya dapat membantu dia dalam coping stress-nya. A nice experience for me......
Apllication in Psychology_part.11
11. Abnormal
Wacana tentang “Abnormal”, entah kenapa saya teringat pada salah satu anak magang yang saya handle. Dia hanya diberi kesempatan 3 bulan saja untuk magang di tempat kerja yang telah ditentukan. Karena apa? Yach, orang-orang yang ada dikantor tersebut menganggap dia kurang bersikap normal seperti yang lainnya. Mereka sering melihat anak tersebut berbicara sendiri, berhalusinasi yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dan hal tersebut sering dia lakukan pada saat jam kerja.
Sampai suatu saat, saya mengadakan konseling untuknya. Saya meminta dia untuk bercerita tentang dirinya, keluarganya, hingga masa kecilnya. Dan saya mendapatkan jawaban atas keabnormalannya. Menurut ceritanya, ketika SD, dia pernah mengalami kecelakaan jatuh tergelincir hingga bagian kepalanya terbentur batu besar. Peristiwa tersebut membuat dia tidak sadar selama 2 hari. Dan hal tersebut tidak diperhatikan seiring berjalannya waktu hingga dia lulus SMA sampai mengikuti proses permagangan yang saya handle.
Saya dapat menyimpulkan berdasarkan Sistem Klasifikasi Tradisional bahwa Brain Syndromes yang dia miliki disebabkan karena kerusakan jaringan pada otak akibat kecelakaan jatuh pada saat SD. Gangguan tersebut dapat menjadi temporer atau dapat pulih kembali dalam jangka waktu lama asalkan ada pihak pendukung yang menangani hal tersebut baik secara medis atau psikis. Saya akan coba follow up lagi perkembangan dia sekarang…
Wacana tentang “Abnormal”, entah kenapa saya teringat pada salah satu anak magang yang saya handle. Dia hanya diberi kesempatan 3 bulan saja untuk magang di tempat kerja yang telah ditentukan. Karena apa? Yach, orang-orang yang ada dikantor tersebut menganggap dia kurang bersikap normal seperti yang lainnya. Mereka sering melihat anak tersebut berbicara sendiri, berhalusinasi yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dan hal tersebut sering dia lakukan pada saat jam kerja.
Sampai suatu saat, saya mengadakan konseling untuknya. Saya meminta dia untuk bercerita tentang dirinya, keluarganya, hingga masa kecilnya. Dan saya mendapatkan jawaban atas keabnormalannya. Menurut ceritanya, ketika SD, dia pernah mengalami kecelakaan jatuh tergelincir hingga bagian kepalanya terbentur batu besar. Peristiwa tersebut membuat dia tidak sadar selama 2 hari. Dan hal tersebut tidak diperhatikan seiring berjalannya waktu hingga dia lulus SMA sampai mengikuti proses permagangan yang saya handle.
Saya dapat menyimpulkan berdasarkan Sistem Klasifikasi Tradisional bahwa Brain Syndromes yang dia miliki disebabkan karena kerusakan jaringan pada otak akibat kecelakaan jatuh pada saat SD. Gangguan tersebut dapat menjadi temporer atau dapat pulih kembali dalam jangka waktu lama asalkan ada pihak pendukung yang menangani hal tersebut baik secara medis atau psikis. Saya akan coba follow up lagi perkembangan dia sekarang…
Apllication in Psychology_part.10
10. Personality
Inner qualities yang didefinisikan oleh Gordon Allport lebih menekankan pada kepribadian merupakan organisasi dalam diri individu yang bersifat dinamis, dan membentuk diri menjadi unik dan beridentitas. And I agree with his statement.
Saya baru sadar, ketika diri saya mampu menjadi “tempat curhat” bagi orang-orang yang ingin kelegaan. Mereka menceritakan kesedihan, kebahagiaan, kekecewaan, dll. Terkadang, mengapa mereka begitu comfort dengan saya ya? Ada cerita untuk itu.
Waktu SMA, saya memiliki teman sebangku yang cantik dan pintar, meski kepribadiannya kurang cocok dengan saya. Sampai akhirnya saya meneliti, apakah ada hal lain yang lebih dari kedua faktor itu. Saya terus memperhatikan tingkah laku teman-teman saya. Dan saya terus berpikir, dimana iner beauty itu?
Actually, ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar cantik atau pintar. Dan saya telah mendapatkan jawabannya. Yaitu, saya berhasil membuat teman-teman sekitar comfort dengan saya. Sampai satu malam, saya sharing tentang hal tersebut kepada ibu. Dan apa kata beliau? “Ada hal yang tidak hanya diukur dari kecantikan dan kepintaran, satu hal yang jauh lebih penting dan terus akan membawa kamu pada kedamaian hidup, maka itu adalah kepribadian kamu sendiri. Dan ibu rasa kamu sudah bisa membawa diri kamu nyaman untuk orang lain, telebih diri kamu sendiri…” jawab ibu dengan senyum terindahnya. God bless you, mom….. That’s cool.
Inner qualities yang didefinisikan oleh Gordon Allport lebih menekankan pada kepribadian merupakan organisasi dalam diri individu yang bersifat dinamis, dan membentuk diri menjadi unik dan beridentitas. And I agree with his statement.
Saya baru sadar, ketika diri saya mampu menjadi “tempat curhat” bagi orang-orang yang ingin kelegaan. Mereka menceritakan kesedihan, kebahagiaan, kekecewaan, dll. Terkadang, mengapa mereka begitu comfort dengan saya ya? Ada cerita untuk itu.
Waktu SMA, saya memiliki teman sebangku yang cantik dan pintar, meski kepribadiannya kurang cocok dengan saya. Sampai akhirnya saya meneliti, apakah ada hal lain yang lebih dari kedua faktor itu. Saya terus memperhatikan tingkah laku teman-teman saya. Dan saya terus berpikir, dimana iner beauty itu?
Actually, ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar cantik atau pintar. Dan saya telah mendapatkan jawabannya. Yaitu, saya berhasil membuat teman-teman sekitar comfort dengan saya. Sampai satu malam, saya sharing tentang hal tersebut kepada ibu. Dan apa kata beliau? “Ada hal yang tidak hanya diukur dari kecantikan dan kepintaran, satu hal yang jauh lebih penting dan terus akan membawa kamu pada kedamaian hidup, maka itu adalah kepribadian kamu sendiri. Dan ibu rasa kamu sudah bisa membawa diri kamu nyaman untuk orang lain, telebih diri kamu sendiri…” jawab ibu dengan senyum terindahnya. God bless you, mom….. That’s cool.
Apllication in Psychology_part.9
9. Intelligence
Rasanya sedih jika kesuksesan yang saya miliki tidak membuat orang lain turut menikmatinya. Sampai saya bertanya kepada diri sendiri, apakah ada yang salah dengan cara pembawaan diri saya yang sukses? Apakah saya begitu menyebalkan bagi dia atau mereka? I don’t know, sometime someone can be like that.
Terkadang, saya sering mendapatkan comments dari seseorang yang mungkin kurang suka dengan “keeksistensian” saya, terlebih senyum buruknya yang membuat saya merasa lelah menghadapinya.
Bagi saya, relationship adalah misterius. Teman atau rekan kerja atau kolega atau apalah sebutannya, terkadang bisa menjadi “angle” untuk diri saya. Tapi, sewaktu-waktu mereka pun bisa menjadi sosok yang mengerikan. Hal ini, membuat saya harus sadar akan kemampuan diri dalam menghadapi berbagai problems. Maka Stabilitas Inteligensi, harus saya terapkan. Seperti penelitian David Wechsler, bahwa tingkat intelligence dapat berperan lebih dibandingkan dengan sekedar “pintar”. Maka saya akan buktikan bahwa hal itu tepat bagi saya.
Saya adalah orang yang belajar ilmu jiwa, maka akan lebih bijak jika saya mampu mengenali emosi diri, mengelola emosi, mengenali emosi orang lain, memotivasi diri dan kemampuan membina hubungan dengan orang lain. Seperti yang disinggung oleh Salovey dan Mayer mengenai Emotional Intelligence.
Rasanya sedih jika kesuksesan yang saya miliki tidak membuat orang lain turut menikmatinya. Sampai saya bertanya kepada diri sendiri, apakah ada yang salah dengan cara pembawaan diri saya yang sukses? Apakah saya begitu menyebalkan bagi dia atau mereka? I don’t know, sometime someone can be like that.
Terkadang, saya sering mendapatkan comments dari seseorang yang mungkin kurang suka dengan “keeksistensian” saya, terlebih senyum buruknya yang membuat saya merasa lelah menghadapinya.
Bagi saya, relationship adalah misterius. Teman atau rekan kerja atau kolega atau apalah sebutannya, terkadang bisa menjadi “angle” untuk diri saya. Tapi, sewaktu-waktu mereka pun bisa menjadi sosok yang mengerikan. Hal ini, membuat saya harus sadar akan kemampuan diri dalam menghadapi berbagai problems. Maka Stabilitas Inteligensi, harus saya terapkan. Seperti penelitian David Wechsler, bahwa tingkat intelligence dapat berperan lebih dibandingkan dengan sekedar “pintar”. Maka saya akan buktikan bahwa hal itu tepat bagi saya.
Saya adalah orang yang belajar ilmu jiwa, maka akan lebih bijak jika saya mampu mengenali emosi diri, mengelola emosi, mengenali emosi orang lain, memotivasi diri dan kemampuan membina hubungan dengan orang lain. Seperti yang disinggung oleh Salovey dan Mayer mengenai Emotional Intelligence.
Apllication in Psychology_part.8
8. Stress and Copping Stress
Dalam hidup ini pastilah tidak ada satu orangpun yang dapat terlepas dari stress. Sama hal nya dengan perjalanan hidup saya. Dimana proses pencapaian “jati diri” akan terus diiringi dengan stress, yaitu keadaan internal yang dapat disebabkan oleh tuntutan fisik terhadap tubuh (ex: penyakit) atau oleh situasi lingkungan (social) yang dinilai secara potensial berbahaya, membebani, tidak terkontrol atau melebihi sumber daya untuk coping.
Akhir-akhir ini, saya sering mengalami morning sick seperti mual di pagi hari. Padahal saya belum menjadi sosok wanita yang sedang hamil lho.. :) Lucunya, saya sempat berpikiran “apa saya hamil ya?? Tapi hamil sama siapa….? “melakukannya” saja belum pernah..!!!” Hahaha… ckckckck ada-ada saja. Karena, dulu saya tidak pernah seperti itu, dan mungkin karena semakin banyak tekanan, tuntutan dan tanggung jawab yang lebih “overload”, Respon fisik tersebut membuat saya lemas dan tidak focus. Akhirnya, respon psikis saya juga mengancam saya depresi, cemas, mudah marah, dll.
Untungnya, kita hidup didunia ini tidak sendirian. Ada orang lain yang menemani dan bersedia menjadi teman kita. Terlebih best friend. Untuk sekedar meringankan beban stress saya, emotion focus coping yang diistilahkan oleh Lazarus dan Folkman, selalu saya lakukan dengan sharing kepada orang terpercaya. Setidaknya dengan hal tersebut, rasa lega akan membuat saya lebih fresh. Sehingga dapat mengatasi stress saya dengan problem focus coping.
Dalam hidup ini pastilah tidak ada satu orangpun yang dapat terlepas dari stress. Sama hal nya dengan perjalanan hidup saya. Dimana proses pencapaian “jati diri” akan terus diiringi dengan stress, yaitu keadaan internal yang dapat disebabkan oleh tuntutan fisik terhadap tubuh (ex: penyakit) atau oleh situasi lingkungan (social) yang dinilai secara potensial berbahaya, membebani, tidak terkontrol atau melebihi sumber daya untuk coping.
Akhir-akhir ini, saya sering mengalami morning sick seperti mual di pagi hari. Padahal saya belum menjadi sosok wanita yang sedang hamil lho.. :) Lucunya, saya sempat berpikiran “apa saya hamil ya?? Tapi hamil sama siapa….? “melakukannya” saja belum pernah..!!!” Hahaha… ckckckck ada-ada saja. Karena, dulu saya tidak pernah seperti itu, dan mungkin karena semakin banyak tekanan, tuntutan dan tanggung jawab yang lebih “overload”, Respon fisik tersebut membuat saya lemas dan tidak focus. Akhirnya, respon psikis saya juga mengancam saya depresi, cemas, mudah marah, dll.
Untungnya, kita hidup didunia ini tidak sendirian. Ada orang lain yang menemani dan bersedia menjadi teman kita. Terlebih best friend. Untuk sekedar meringankan beban stress saya, emotion focus coping yang diistilahkan oleh Lazarus dan Folkman, selalu saya lakukan dengan sharing kepada orang terpercaya. Setidaknya dengan hal tersebut, rasa lega akan membuat saya lebih fresh. Sehingga dapat mengatasi stress saya dengan problem focus coping.
Langganan:
Postingan (Atom)